Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Wednesday, July 1, 2015

Perampok Sejati

Alkisah, terjadi sebuah perampokan di Guangzhou, China, perampok bank berteriak kesemua orang di bank:

"Jangan Bergerak. Uang ini Milik Negara, Hidupmu milikmu."
Semua orang di bank menunduk dengan tenang.
Ini yang disebut "Konsep Merubah Pikiran"
Merubah cara berpikir yang konvensional.


(ilustrasi)

Ketika seorang wanita berbaring di meja secara profokatif,
perampok berteriak padanya "Beradablah, Ini perampokan, bukan pemerkosaan!"
Ini yang disebut "Professional" fokus hanya kepada apa yang kamu dilatih untuk..

Ketika Perampok kembali kerumah,
perampok yang lebih muda (lulusan s2) berkata kepada perampok yang tua (lulusan sd):
"Bang, ayo kita hitung berapa yang kita dapat."
Perampok yang lebih tua bilang "Bego banget lo. Duitnya banyak gitu lama pasti ngitungnya.
Malem ini lihat aja di TV bakal bilang berapa yang kita rampok dari bank!"
Ini yang disebut "Pengalaman." Sekarang pengalaman lebih penting dari gelar..!

Setelah perampok pergi, manajer bank bilang pada supervisor bank untuk menelpon polisi secepatnya. Tetapi supervisor berkata: "Tunggu! Ayo kita ambil $10juta dollar dari bank untuk kita dan tambahkan ke $70juta dollar yang sudah diambil dari bank".

Ini yang disebut "Sambil Berenang Minum Air." Merubah keadaan tak baik menjadi keuntungan anda!

Supervisor berkata: " Akan sangat bagus bila ada perampokan setiap bulan."
Ini yang disebut "Membunuh Kebosanan" Kebahagiaan personal lebih penting dari pekerjaan anda.

Keesokan harinya, Berita TV melaporkan bahwa $100juta telah dicuri dari bank.
Perampok menghitung dan menghitung, tetapi mereka hanya dapat $20juta dollar.
Perampok sangat marah dan komplain "Kita meresikokan hidup kita dan hanya dapat $20juta dollar.
Pekerja Bank mengambil $80juta dollar dengan santai.
Sepertinya mendingan menjadi teredukasi daripada perampok!"

Ini yang disebut "Pengetahuan bernilai lebih banyak dari emas" Manajer bank tersenyum dan bahagia karena kekalahan di main saham dapat di bayarkan oleh perampokan yang terjadi. Ini yang disebut "Mengambil kesempatan." Berani mengambil resiko!

Jadi siapakah pencuri Sejati dan lebih professional di sini?

Thursday, May 28, 2015

Sang Petani Dan Sahabatnya

Di sebuah desa, hiduplah seorang petani bernama Abu. Ia adalah petani yang rajin namun terlalu merasa bangga dengan semua hasil yang telah didapatnya. Pertanian yang luas, rumah yang besar, ternak yang banyak dan sehat, ia merasa dialah yang paling pintar di desa itu sehingga dia bisa berhasil melebihi orang lain di desa itu.

Suatu hari, datanglah Dollah Sahabat Abu yang berasal dari desa tetangga. Dollah memuji-muji kepintaran Abu sehingga ia bisa menjadi petani yang sukses dan kaya. Menurut Dollah, bahkan di desanya pun tak ada orang yang menyamai kepandaian dan kesuksesan Abu dalam bertani. Mereka semua terlalu bodoh bahkan untuk menanam sebiji kacang pun mereka harus berguru pada seekor ayam.

"Benarkah demikian wahai Dollah, aku pun kadang berpikir demikian?" Abu tersenyum penuh kepuasan. "Benar sekali tuanku Abu, orang-orang di desa ini, bahkan di desaku, mereka terlalu bodoh untuk bisa menyamai cara tuan dalam bertani dan beternak. Mereka semua terlalu bodoh bahkan untuk menanam sebiji kacang pun mereka harus berguru pada seekor ayam. Saya berkata jujur" Dollah berkata penuh semangat, membuat dada Abu semakin membusung.

Hari itu Abu sangat senang sekali mendapat kunjungan dari Dollah, sahabatnya dari kampung sebelah sehingga ia menghadiahi Dollah dengan hadiah berupa tiga ekor kambing untuk dibawanya pulang. Sebenarnya bukan kali itu saja ia memberikan barang-barang kepada Dollah. Tapi karena hari itu ia sangat senang sehingga ia tak segan memberi Dollah sebanyak itu. Namun tidak demikian dengan Dollah. Walaupun ia tampak senang dan berterimakasih, namun sebenarnya ia sangat mengharapkan seekor sapilah yang akan diberikan Abu untuknya.

Hari pun berlalu. Namun kebahagiaan dan kebanggaan Abu tidak bertahan lama. Dia mulai gelisah karena gandum, buah dan sayuran yang menjadi kebanggaanya sebagai petani mulai menumpuk di lumbung penyimpanan. Para pemesan telur dan daging pun sudah mulai berkurang sehingga ia mulai kesulitan menggaji para pekerjanya. Kemana gerangan para pembeli itu, apakah mereka sudah memiliki tempat pembeli lain yang lebih murah? pikir Abu.

Lalu dengan memakai penyamaran, Abu pun berangkat ke pasar. Ia ingin sekali mengetahui penyebab mengapa para penjual tidak lagi mau membeli hasil pertanian darinya.Setibanya di pasar, Abu menghampiri penjual gandum yang biasa membeli gandum kepadanya untuk dijual di pasar."Tuan, menurut jurumasak di rumah saya, gandum yang Anda jual adalah yang terbaik di pasar ini. tapi mengapa akhir-akhir ini saya merasakan hal yang berbeda? apakah tuan menjual gandum berkualitas lebih rendah?" Abu bertanya kepada sang penjual sambil berharap penjual itu tak mengenali penyamarannya.

"Ah, maafkan hal itu tuan," jawab sang penjual, "Saya terpaksa tidak membeli di petani tempat saya biasa membeli. Jawab pedagang dengan nada  memohon maaf. Baru saja Abu hendak menanyakan mengapa, tiba-tiba masuklah seseorang yang dikenalya dengan baik. Dollah. "Ah Dollah, kebetulan sekali. Tuan ini menanyakan mengapa kualitas gandum yang saya jual tidak seperti biasanya. mungkin Anda bisa menjelaskannya. Saya kuatir saya salah bicara."

"Wah, tuan belum tau rupanya, dia biasanya membeli gandum dari tuan Abu, petani terkaya itu. Tapi dia sangatlah sombong dengan mengatakan bahwa mengapa hanya dia yang sukses  menjadi petani di desa, itu karena orang-orang di desa terlalu bodoh bahkan untuk menanam sebiji kacang pun mereka harus berguru pada seekor ayam. Saya berkata jujur." Dollah berkata dengan semangatnya sambil menatap Abu yang berusaha dikenalinya.

Dengan pelan Abu mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu Abu pun berkata dengan tenang: "Tiga ekor kambing mungkin lebih baik daripada seorang sahabat yang mengharapkan seekor sapi". Abu lalu meninggalkan tempat itu dengan hati sedih.

Lain halnya dengan Dollah, setelah Abu berlalu, barulah dia tersadar bahwa suara orang yang berdiri di hadapannya tadi adalah suara sahabatnya Abu. Betapa malunya ia karena ialah yang akhirnya membeberkan keculasannya sendiri.

Waktupun berlalu. Dollah akhirnya mengakui kebohongannya kepada para pedagang tentang Abu sehingga merekapun kembali membeli hasil pertanian Abu. Abu akhirnya mau memaafkan sahabatnya Dollah tapi sejak saat itu ia tak pernah lagi mempercayai ucapannya.

Pesan moral :

Jangan merasa bangga jika seseorang berani datang di hadapanmu dan menceritakan kekurangan orang lain, karena esok, dengan mudahnya ia akan menceritakan kekuranganmu juga di hadapan orang lain.

Like dan share : Motivasi Hari Ini
By : Helis

Tuesday, May 26, 2015

Anak Lelaki Dan Pohon Apel

Alkisah, ada sebatang pohon apel. Seorang anak kecil suka datang dan bermain-main setiap hari.
Dia senang naik ke atas pohon, makan apel, tidur sejenak di bawah bayang-bayang pohon apel. Ia mencintai pohon apel itu dan pohon itu menyayanginya. Waktu pun berlalu. Anak kecil itu sudah bertumbuh dewasa dan dia berhari-hari tidak lagi bermain di sekitar pohon.

Suatu hari, anak itu datang kembali ke pohon dan ia tampak sedih. "Ayo bermain dengan saya," pinta pohon apel itu. "Saya bukan lagi seorang anak, saya tidak bermain di sekitar pohon lagi," anak itu menjawab, "Aku ingin mainan. Aku butuh uang untuk membelinya." "Maaf, tapi saya tidak punya uang, tapi kamu bisa mengambil buah apel saya dan menjualnya. Maka kamu akan punya uang." Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua apel di pohon dan pergi dengan gembira. Anak itu tidak pernah kembali setelah ia mengambil buah apel. Pohon itu tetap menantinya dengan penuh harap.

Suatu hari anak itu kembali dan pohon itu sangat senang. "Ayo bermain-main dengan saya," kata pohon apel.
"Saya tidak punya waktu untuk bermain. Saya harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Dapatkah engkau membantu?" "Maaf tapi aku tidak punya rumah. Tetapi kamu dapat memotong cabang-cabang saya untuk membangun rumahmu." Lalu anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting dari pohon dan pergi dengan gembira. Pohon itu senang melihatnya bahagia, tapi anak itu tidak pernah kembali setelah itu. Pohon itu kesepian dan sedih.

Suatu hari di musim panas, anak itu kembali dan pohon itu begitu gembira. "Ayo bermain-main dengan saya." kata pohon. "Saya sangat sedih dan mulai tua. Saya ingin pergi berlayar untuk bersantai dengan diriku sendiri. Dapatkah kau memberiku perahu?" "Gunakan batang pohonku untuk membangun perahu. Kamu dapat berlayar jauh dan menjadi bahagia." Lalu anak itu memotong batang pohon untuk membuat perahu. Dia pergi berlayar dan tak kembali dalam waktu yang sangat panjang.

Akhirnya, anak itu kembali setelah ia pergi selama bertahun-tahun. "Maaf, anakku, tapi aku tidak punya apa-apa untukmu lagi. Tidak ada lagi apel untukmu," kata pohon. "Saya tidak punya gigi lagi untuk menggigit," jawab anak itu. "Tidak ada lagi batang bagimu untuk memanjat." "Saya terlalu tua untuk itu sekarang" jawab anak itu. "Saya benar-benar tak bisa memberikan apa-apa. Satu-satunya yang tersisa adalah akar sekarat," pohon apel berkata lirih.
.
"Aku tidak membutuhkan banyak sekarang, hanya sebuah tempat untuk beristirahat. Saya lelah setelah sekian tahun," anak itu menjawab. "Bagus! Akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk bersandar dan beristirahat. Ayo, ayo duduk bersama saya dan istirahatlah." Anak itu duduk dan pohon itu sangat gembira
dan tersenyum dengan air mata.

Mungkin kita bisa mengartikan kisah ini dalam berbagai aplikasi. Intinya adalah, anak kecil itu adalah kita, dan pohon apel adalah orang-orang yang mencintai kita terutama orang tua kita. Saat kecil, kita begitu senang saat berada di dekat mereka. Tapi setelah dewasa, kita pergi ke mana saja kita mau dan hanya kembali saat kita merasa membutuhkan mereka. Namun mereka, orang yang mencintai kita adalah seperti pohon, tetap di tempatnya menanti kita dengan rindu yang begitu tulus.

Adakah kita sudah mencintai mereka, bukan karena kita sekedar membutuhkan bantuan mereka, penghiburan mereka, pelukan hangat mereka? Adakah kita mencintai mereka dengan tulus memberi hati dan apa yang kita miliki tanpa sedikitpun mengharapkan balasan?

Jangan mengulur waktu, mulailah dari sekarang!

By : Helis

Wednesday, October 30, 2013

Ketulusan Yang Terabaikan

Kisah ini di ceritakan oleh seorang kakak ketika kami sedang berkumpul dan membahas tentang arti tulusnya memberi.
Pada suatu hari, kakak dan anak-anak didik remajanya sedang berkumpul membahas tentang rencana mereka untuk melakukan kunjungan sosial ke panti asuhan, dan pilihan jatuh pada sebuah panti asuhan kecil di daerah Bogor. Mereka lalu meminta dukungan dana dari orang tua masing-masing.

Tapi ada salah satu orang tua memberikan beberapa buah boneka karakter hewan seperti barney dan doraemon, dan terselip diantara boneka2 itu satu boneka barbie.

Mereka tadinya keberatan menerima sumbangan boneka itu, karena susah nanti untuk bisa dibagikan ke anak-anak panti asuhan, mengingat jumlahnya yang "nanggung". "Tapi namanya pemberian yah, walaupun kebingungan, akhirnya kita terima saja" kata kakak.
Lalu salah satu anak mengusulkan bahwa nanti sebagai pengisi acara, mereka akan mengadakan semacam kuis berhadiah, yang bisa jawab akan diberi hadiah boneka, jadi anak panti yang tidak kebagian, tidak akan merasa iri.

Lalu tibalah hari keberangkatan mereka ke bogor. Disana mereka disambut oleh anak-anak panti dengan sorak kegirangan. Lalu mereka di bawa ke sebuah ruang aula sederhana, untuk mengadakan acara amal mereka. Panti asuhan ini memang sebuah panti asuhan sederhana, yang tidak mendapat perhatian besar dari pemerintah ataupun para donatur.
Setelah acara di mulai, kakak menyuruh anak-anak meneruskan acara sementara kakak akan mengambil makanan yang telah mereka pesan di sebuah restoran cepat saji, untuk mereka bagikan nanti ke anak-anak panti asuhan.

Saat kakak kembali dan masuk ke aula tempat acara berlangsung, terdengan suara ribut-ribut dan sorak-sorak suara anak-anak panti "bencong, beenconng, beencong" sedangkan anak-anak didik kakak yang mengadakan acara juga tampak sedang tertawa-tawa geli.

Sorakan itu ditujukan pada seorang anak lelaki  berbadan kurus, berbaju kaos oblong putih, namun warnanya kusam kekuningan karena seringnya dicuci. Usianya mungkin tujuh tahunan. dia duduk disudut ruangan, tertunduk sambil memegang erat sebuah boneka barbie di tangannya. sementara teman-temannya terus menyorakinya.
Kakak segera berusaha menenangkan suasana. Setelah acara berjalan kembali, kakak memanggil salah seorang anak didiknya dan menanyakan penyebab kejadian tadi.

Ternyata, saat kuis dengan boneka sebagai hadiah, anak lelaki itu berhasil menjawab pertanyaan dan dia di persilahkan memilih hadiahnya. Dia memilih boneka barbie. Ketika salah seorang anak perempuan meminta menukar boneka babrie itu dengan boneka karakter binatang karena seorang anak lelaki tak pantas memiliki dan bermain boneka barbie, dia berkeras tidak mau menukarkannya, maka kejadian seperti yang di lihat kakak tadi itulah yang terjadi.

Saat tiba acara makan bersama, kakak mendekati anak lelaki itu yang duduk sendirian sambil lahap menikmati makanan kotak yang dibagikan, sementara boneka barbie didekap erat di tangan kirinya. Kakak lalu menanyainya mengapa dia memilih boneka babrie itu, dan membiarkan dirinya di olok-olok teman-temannya.

Dia lalu bercerita, bahwa dia anak ketiga dari empat bersaudara, mereka masih kecil-kecil sedangkan ayahnya sudah meninggal. Karena kesusahan merawat dan membiayai mereka, ibunya yang miskin lalu membagi-bagikan/menitipkan mereka. Dua kakaknya laki-laki dititipkan untuk di rawat oleh saudara ibu. Dirinya di taruh di panti asuhan itu, sedangkan adik bungsunya perempuan di rawat oleh ibu sendiri. Ibu berjanji bahwa tahun baru nanti mereka akan berkumpul bersama dan dia akan memberikan boneka barbie itu untuk adik perempuan kecilnya.

Setelah acara kunjungan itu selesai, kakak mengumpulkan anak-anak didiknya dan menceritakan penyebab mengapa anak lelaki itu mempertahankan boneka barbie itu sekalipun dia harus di olok-olok.

Ketulusan hati yang sejati dan sikap memberi bisa datang darimana saja, bahkan dari seorang anak panti asuhan berbadan kurus dan berpakaian kusam.