Thursday, May 28, 2015

Sang Petani Dan Sahabatnya

Di sebuah desa, hiduplah seorang petani bernama Abu. Ia adalah petani yang rajin namun terlalu merasa bangga dengan semua hasil yang telah didapatnya. Pertanian yang luas, rumah yang besar, ternak yang banyak dan sehat, ia merasa dialah yang paling pintar di desa itu sehingga dia bisa berhasil melebihi orang lain di desa itu.

Suatu hari, datanglah Dollah Sahabat Abu yang berasal dari desa tetangga. Dollah memuji-muji kepintaran Abu sehingga ia bisa menjadi petani yang sukses dan kaya. Menurut Dollah, bahkan di desanya pun tak ada orang yang menyamai kepandaian dan kesuksesan Abu dalam bertani. Mereka semua terlalu bodoh bahkan untuk menanam sebiji kacang pun mereka harus berguru pada seekor ayam.

"Benarkah demikian wahai Dollah, aku pun kadang berpikir demikian?" Abu tersenyum penuh kepuasan. "Benar sekali tuanku Abu, orang-orang di desa ini, bahkan di desaku, mereka terlalu bodoh untuk bisa menyamai cara tuan dalam bertani dan beternak. Mereka semua terlalu bodoh bahkan untuk menanam sebiji kacang pun mereka harus berguru pada seekor ayam. Saya berkata jujur" Dollah berkata penuh semangat, membuat dada Abu semakin membusung.

Hari itu Abu sangat senang sekali mendapat kunjungan dari Dollah, sahabatnya dari kampung sebelah sehingga ia menghadiahi Dollah dengan hadiah berupa tiga ekor kambing untuk dibawanya pulang. Sebenarnya bukan kali itu saja ia memberikan barang-barang kepada Dollah. Tapi karena hari itu ia sangat senang sehingga ia tak segan memberi Dollah sebanyak itu. Namun tidak demikian dengan Dollah. Walaupun ia tampak senang dan berterimakasih, namun sebenarnya ia sangat mengharapkan seekor sapilah yang akan diberikan Abu untuknya.

Hari pun berlalu. Namun kebahagiaan dan kebanggaan Abu tidak bertahan lama. Dia mulai gelisah karena gandum, buah dan sayuran yang menjadi kebanggaanya sebagai petani mulai menumpuk di lumbung penyimpanan. Para pemesan telur dan daging pun sudah mulai berkurang sehingga ia mulai kesulitan menggaji para pekerjanya. Kemana gerangan para pembeli itu, apakah mereka sudah memiliki tempat pembeli lain yang lebih murah? pikir Abu.

Lalu dengan memakai penyamaran, Abu pun berangkat ke pasar. Ia ingin sekali mengetahui penyebab mengapa para penjual tidak lagi mau membeli hasil pertanian darinya.Setibanya di pasar, Abu menghampiri penjual gandum yang biasa membeli gandum kepadanya untuk dijual di pasar."Tuan, menurut jurumasak di rumah saya, gandum yang Anda jual adalah yang terbaik di pasar ini. tapi mengapa akhir-akhir ini saya merasakan hal yang berbeda? apakah tuan menjual gandum berkualitas lebih rendah?" Abu bertanya kepada sang penjual sambil berharap penjual itu tak mengenali penyamarannya.

"Ah, maafkan hal itu tuan," jawab sang penjual, "Saya terpaksa tidak membeli di petani tempat saya biasa membeli. Jawab pedagang dengan nada  memohon maaf. Baru saja Abu hendak menanyakan mengapa, tiba-tiba masuklah seseorang yang dikenalya dengan baik. Dollah. "Ah Dollah, kebetulan sekali. Tuan ini menanyakan mengapa kualitas gandum yang saya jual tidak seperti biasanya. mungkin Anda bisa menjelaskannya. Saya kuatir saya salah bicara."

"Wah, tuan belum tau rupanya, dia biasanya membeli gandum dari tuan Abu, petani terkaya itu. Tapi dia sangatlah sombong dengan mengatakan bahwa mengapa hanya dia yang sukses  menjadi petani di desa, itu karena orang-orang di desa terlalu bodoh bahkan untuk menanam sebiji kacang pun mereka harus berguru pada seekor ayam. Saya berkata jujur." Dollah berkata dengan semangatnya sambil menatap Abu yang berusaha dikenalinya.

Dengan pelan Abu mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu Abu pun berkata dengan tenang: "Tiga ekor kambing mungkin lebih baik daripada seorang sahabat yang mengharapkan seekor sapi". Abu lalu meninggalkan tempat itu dengan hati sedih.

Lain halnya dengan Dollah, setelah Abu berlalu, barulah dia tersadar bahwa suara orang yang berdiri di hadapannya tadi adalah suara sahabatnya Abu. Betapa malunya ia karena ialah yang akhirnya membeberkan keculasannya sendiri.

Waktupun berlalu. Dollah akhirnya mengakui kebohongannya kepada para pedagang tentang Abu sehingga merekapun kembali membeli hasil pertanian Abu. Abu akhirnya mau memaafkan sahabatnya Dollah tapi sejak saat itu ia tak pernah lagi mempercayai ucapannya.

Pesan moral :

Jangan merasa bangga jika seseorang berani datang di hadapanmu dan menceritakan kekurangan orang lain, karena esok, dengan mudahnya ia akan menceritakan kekuranganmu juga di hadapan orang lain.

Like dan share : Motivasi Hari Ini
By : Helis

No comments:

Post a Comment