Tuesday, May 26, 2015

Anak Lelaki Dan Pohon Apel

Alkisah, ada sebatang pohon apel. Seorang anak kecil suka datang dan bermain-main setiap hari.
Dia senang naik ke atas pohon, makan apel, tidur sejenak di bawah bayang-bayang pohon apel. Ia mencintai pohon apel itu dan pohon itu menyayanginya. Waktu pun berlalu. Anak kecil itu sudah bertumbuh dewasa dan dia berhari-hari tidak lagi bermain di sekitar pohon.

Suatu hari, anak itu datang kembali ke pohon dan ia tampak sedih. "Ayo bermain dengan saya," pinta pohon apel itu. "Saya bukan lagi seorang anak, saya tidak bermain di sekitar pohon lagi," anak itu menjawab, "Aku ingin mainan. Aku butuh uang untuk membelinya." "Maaf, tapi saya tidak punya uang, tapi kamu bisa mengambil buah apel saya dan menjualnya. Maka kamu akan punya uang." Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua apel di pohon dan pergi dengan gembira. Anak itu tidak pernah kembali setelah ia mengambil buah apel. Pohon itu tetap menantinya dengan penuh harap.

Suatu hari anak itu kembali dan pohon itu sangat senang. "Ayo bermain-main dengan saya," kata pohon apel.
"Saya tidak punya waktu untuk bermain. Saya harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Dapatkah engkau membantu?" "Maaf tapi aku tidak punya rumah. Tetapi kamu dapat memotong cabang-cabang saya untuk membangun rumahmu." Lalu anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting dari pohon dan pergi dengan gembira. Pohon itu senang melihatnya bahagia, tapi anak itu tidak pernah kembali setelah itu. Pohon itu kesepian dan sedih.

Suatu hari di musim panas, anak itu kembali dan pohon itu begitu gembira. "Ayo bermain-main dengan saya." kata pohon. "Saya sangat sedih dan mulai tua. Saya ingin pergi berlayar untuk bersantai dengan diriku sendiri. Dapatkah kau memberiku perahu?" "Gunakan batang pohonku untuk membangun perahu. Kamu dapat berlayar jauh dan menjadi bahagia." Lalu anak itu memotong batang pohon untuk membuat perahu. Dia pergi berlayar dan tak kembali dalam waktu yang sangat panjang.

Akhirnya, anak itu kembali setelah ia pergi selama bertahun-tahun. "Maaf, anakku, tapi aku tidak punya apa-apa untukmu lagi. Tidak ada lagi apel untukmu," kata pohon. "Saya tidak punya gigi lagi untuk menggigit," jawab anak itu. "Tidak ada lagi batang bagimu untuk memanjat." "Saya terlalu tua untuk itu sekarang" jawab anak itu. "Saya benar-benar tak bisa memberikan apa-apa. Satu-satunya yang tersisa adalah akar sekarat," pohon apel berkata lirih.
.
"Aku tidak membutuhkan banyak sekarang, hanya sebuah tempat untuk beristirahat. Saya lelah setelah sekian tahun," anak itu menjawab. "Bagus! Akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk bersandar dan beristirahat. Ayo, ayo duduk bersama saya dan istirahatlah." Anak itu duduk dan pohon itu sangat gembira
dan tersenyum dengan air mata.

Mungkin kita bisa mengartikan kisah ini dalam berbagai aplikasi. Intinya adalah, anak kecil itu adalah kita, dan pohon apel adalah orang-orang yang mencintai kita terutama orang tua kita. Saat kecil, kita begitu senang saat berada di dekat mereka. Tapi setelah dewasa, kita pergi ke mana saja kita mau dan hanya kembali saat kita merasa membutuhkan mereka. Namun mereka, orang yang mencintai kita adalah seperti pohon, tetap di tempatnya menanti kita dengan rindu yang begitu tulus.

Adakah kita sudah mencintai mereka, bukan karena kita sekedar membutuhkan bantuan mereka, penghiburan mereka, pelukan hangat mereka? Adakah kita mencintai mereka dengan tulus memberi hati dan apa yang kita miliki tanpa sedikitpun mengharapkan balasan?

Jangan mengulur waktu, mulailah dari sekarang!

By : Helis

No comments:

Post a Comment